10 Kesalahpahaman Terbesar tentang Uang
Selama berabad-abad, uang telah menjadi subjek berbagai kesalahpahaman dan mitos, yang membuat banyak orang memiliki sikap tidak sehat terhadap kekayaan dan pengelolaan keuangan. Hal ini benar bahkan di dunia Muslim, tempat individu dari beragam latar belakang, kelas sosial, dan profesi memiliki berbagai pandangan tentang uang, yang sering kali dibentuk oleh pengalaman pribadi mereka.
Terlepas dari orientasi masing-masing individu, ada sikap Islam tentang uang serta bagaimana uang seharusnya dicari dan dibelanjakan. Di tengah-tengah semua itu, terdapat sejumlah kesalahpahaman umum tentang uang.
#1. Uang adalah akar segala kejahatan
Ungkapan "Uang adalah akar segala kejahatan" telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Orang percaya bahwa begitu Anda memiliki uang, uang itu mendorong Anda melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Orang dengan orientasi ini tidak memanfaatkan peluang untuk menghasilkan uang; mereka menganggap orang yang memanfaatkan peluang semacam itu sebagai serakah. Keyakinan mereka membuat mereka ingin segera menyingkirkan uang (mungkin dengan membelanjakan dan menyumbangkannya), karena menganggap lembaran kertas di tangan mereka itu jahat.
Selain itu, Muslim dengan pola pikir ini memandang sesama Muslim yang kaya sebagai orang yang hidup hanya untuk kehidupan dunia dan bukan akhirat. Mereka percaya uang akan menjauhkan mereka dari beribadah kepada Allah.
Kenyataannya: Uang belum tentu menjadi akar segala kejahatan. Pernyataan itu sendiri merupakan kutipan ayat Alkitab yang disalahpahami (1 Timotius 6:10). Ayat itu berbunyi, 'Cinta uang adalah akar segala kejahatan.' dan bukan uang adalah akar segala kejahatan. Ketika kita melihat ayat yang benar, maknanya cukup jelas. Uang itu sendiri tidak dapat menjauhkan Anda dari beribadah kepada Allah atau membuat Anda berdosa. Uang hanyalah selembar kertas. Hubungan Anda dengan uang dan cara Anda memperlakukannya yang membuat perbedaan. Memang, mencintai uang adalah akar segala kejahatan.
Banyak orang kaya berkomitmen membantu sesama, berkontribusi pada suatu tujuan, dan mengangkat orang dari kemiskinan. Anda kemungkinan akan mendapati bahwa sebagian Muslim kaya ini berinfak di jalan Allah, membangun masjid, membiayai orang untuk berhaji dan berumrah, menunaikan zakat dan sedekah, serta mempererat tali kekeluargaan dengan kekayaan mereka. Semua amalan ini mendekatkan mereka kepada Allah, bukan menjauhkan mereka dari-Nya.
Nabi (SAW) biasa berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari kemiskinan, karena mengetahui bahwa kemiskinan, jika bertambah parah, dapat membuat seseorang menjadi kufur. Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa harta adalah bagian dari perhiasan dunia (Surah Al-Kahf, ayat 46). Uang bukanlah masalah utama di sini, melainkan cinta uang yang berlebihan dan penggunaannya yang merugikan.
#2. Anda punya banyak waktu untuk menabung
Kesalahpahaman lain yang lazim di kalangan sebagian individu muda yang pekerja keras adalah bahwa memiliki tabungan tidaklah perlu, terutama jika mereka belum berencana pensiun dalam waktu dekat. Akibatnya, mereka tidak memprioritaskan menabung.
Kenyataannya: Nasihat terbaik yang bisa diberikan siapa pun adalah mulailah menabung sekarang juga. Baik Anda menabung untuk pensiun maupun sekadar menyisihkan uang untuk proyek atau liburan mendatang, jangan menunda menabung. Semakin awal Anda memulai, semakin baik kondisi keuangan Anda nantinya.
Ingatlah bahwa waktu itu terbatas, jadi penting untuk tidak menunggu sampai Anda berpenghasilan besar untuk mulai menabung. Seiring bertambahnya penghasilan, godaan untuk gaya hidup yang lebih mewah pun ikut bertambah. Setiap tabungan Anda, sekecil apa pun, membawa perubahan bagi kesejahteraan finansial Anda.
Berikut kutipan dari Morgan Housel, yang menurut saya bisa menjadi kompas penuntun Anda dalam perjalanan menabung: "Gagasan pertama, sederhana tetapi mudah terlewatkan, adalah bahwa membangun kekayaan tidak banyak berkaitan dengan penghasilan atau hasil investasi Anda, melainkan sangat bergantung pada rasio tabungan Anda."
#3. Lebih banyak uang = lebih bahagia
Orang sering mengaitkan kebahagiaan dengan memiliki lebih banyak uang. Sebagian merasa cukup dengan uang yang cukup untuk membayar tagihan, sedangkan sebagian lain percaya bahwa semakin banyak uang Anda, semakin bahagia Anda. Mereka mengira gaya hidup mewah, mengendarai mobil bagus, dan tinggal di rumah megah otomatis berarti Anda puas.
Kenyataannya: Semua orang menginginkan uang, tetapi cinta uang yang berlebihan akan membuat Anda tidak bahagia. Memandang lebih banyak uang sebagai jalan menuju kebahagiaan hanya akan menciptakan lingkaran kebutuhan tanpa akhir yang tidak akan pernah terpenuhi. Pada akhirnya, Anda akan terjerumus ke jurang kesedihan dan kehampaan.
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah (SAW) bersabda, "Seandainya anak Adam memiliki satu lembah penuh emas, ia pasti ingin memiliki dua lembah, karena tidak ada yang memenuhi mulutnya selain tanah. Dan Allah mengampuni orang yang bertobat kepada-Nya." — Shahih al-Bukhari, 6439.
Dunia ini adalah ujian, dan hidup yang merasa cukup dengan ketetapan Allah dianjurkan bagi siapa pun yang ingin melihat kebahagiaan dalam bentuknya yang paling murni.
#4. Anda butuh banyak uang sebelum bisa mulai berinvestasi
Bagian dari kesalahpahaman seputar uang adalah anggapan bahwa orang yang membutuhkan lebih banyak uang sebaiknya tidak mempertimbangkan investasi.
Kenyataannya: Kekurangan uang seharusnya tidak pernah menghalangi Anda untuk berinvestasi. Investasi terutama ditujukan untuk jangka panjang, dan kenyataannya Anda tidak memerlukan banyak uang untuk memulai. Anda dapat berinvestasi pada saham pecahan (fractional shares), yang memungkinkan Anda membeli sebagian dari satu saham, sehingga posisi Anda terbangun seiring waktu.
Ide yang baik adalah menyisihkan sejumlah tertentu dari penghasilan Anda untuk investasi (meskipun hanya satu dolar) dan perlahan membangun kebiasaan berinvestasi. Ingatlah, tidak ada investasi yang terlalu kecil.
#5. Anda tidak bisa pensiun sebelum usia 60-an
Sebagian orang percaya bahwa Anda baru bisa pensiun setelah berusia 65 tahun, dan barulah saat itu Anda benar-benar bisa menjalani hidup dengan santai dan menikmatinya.
Kenyataannya: Secara umum, masa pensiun tiba di usia 65 tahun, meskipun ini berbeda-beda menurut wilayah. Misalnya, di Inggris dan Amerika Serikat, usia pensiun berkisar antara 62-67 tahun, tetapi tidak ada yang melarang Anda pensiun lebih awal. Yang Anda persiapkan untuk mengamankan pensiun dini bagi diri sendiri sangat berpengaruh.
Dengan rencana dan sistem yang tepat, Anda bisa pensiun sejak usia 30-an. Simak artikel di bawah ini, yang membahas metode FIRE (Financially Independent, Retire Early), dan bagaimana Anda dapat menerapkannya sebagai seorang Muslim.

#6. Anda tidak punya bekal untuk menjadi kaya
Kesalahpahaman lainnya adalah sebagian orang merasa tidak bisa menjadi kaya karena kurang memiliki keterampilan yang dibutuhkan. Namun, ketika ditanya keterampilan apa yang kurang, mereka berdalih, dan Anda akan mendapati bahwa yang kurang bukanlah keterampilan, melainkan dorongan untuk memanfaatkannya. Ini adalah pola pikir yang tidak sehat.
Kenyataannya: Siapa pun yang ingin menjadi kaya harus siap bekerja keras, karena tidak ada jalan pintas. Tanyakan pada diri Anda:
- Apa hal terburuk yang bisa terjadi jika saya memutuskan mengambil risiko bekerja keras siang dan malam?
- Apa hal terbaik yang bisa terjadi jika kerja keras saya membuahkan hasil?
- Mengapa saya berusaha keras menyamai orang lain padahal saya bisa memilih untuk tampil beda?
- Apa keterampilan alami saya, dan bagaimana saya dapat memanfaatkan kekuatan keterampilan tersebut?
Orang miskin sering menunjukkan pola pikir negatif dan meremehkan diri sendiri, sedangkan orang kaya biasanya memiliki sikap "pasti bisa" serta pola pikir kelimpahan alih-alih pola pikir kekurangan.
#7. Uang = rasa aman
Orang sering keliru mengira bahwa memiliki uang berarti aman. Mereka percaya bahwa begitu kaya, Anda berada di atas segala ujian dan cobaan. Mungkinkah ini benar?
Kenyataannya: Memiliki uang tidak berarti aman. Anda tetap bisa terbaring sakit. Anda tidak akan pernah memiliki cukup uang untuk mengendalikan segalanya. Banyak orang kaya meninggal karena penyakit yang tak tersembuhkan; tidak ada yang benar-benar aman. Kita sebagai Muslim tahu bahwa Allah di atas segalanya, dan Dia menguji siapa yang Dia kehendaki.
Memang, kekayaan memberi Anda kenyamanan yang tidak dapat diraih orang biasa, tetapi kekayaan tidak membuat Anda kebal dari cobaan.
#8. Semakin banyak uang Anda, semakin sedikit kekhawatiran Anda
Banyak orang percaya bahwa memiliki lebih banyak uang berarti lebih sedikit kekhawatiran. Misalnya, mereka mengira uang dapat menyelesaikan semua masalah dan dapat dikerahkan untuk menghadapi tantangan apa pun. Kesalahpahaman ini sungguh serius.
Kenyataannya: Kenyataan berkata lain. Lebih banyak uang sering kali berarti lebih banyak kekhawatiran. Bagi seorang Muslim, ada kekhawatiran yang terbesar dari semuanya: kekhawatiran tentang pertanggungjawaban. Fakta bahwa setiap dolar yang dibelanjakan di dunia ini akan dipertanggungjawabkan pada hari perhitungan patut dikhawatirkan.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud (semoga Allah meridainya) bahwa Nabi (SAW) bersabda: “Anak Adam tidak akan beranjak dari hadapan Tuhannya pada Hari Kiamat hingga ia ditanya tentang lima hal: usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, dan bagaimana ia mengamalkan ilmu yang telah ia peroleh.” (HR. at-Tirmidzi, 2422; dinilai Hasan oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi, 1969)
#9. Utang itu hal yang wajar
Sebagian orang hidup dengan anggapan keliru bahwa memiliki utang kartu kredit dan mengambil pinjaman adalah hal yang lumrah dan tidak perlu dikhawatirkan.
Kenyataannya: Kesalahpahaman ini mungkin yang terburuk karena dapat melumpuhkan keuangan Anda. Membiasakan diri membeli barang yang tidak mampu Anda beli adalah cara pasti menuju kehancuran finansial. Menurut Experian, lebih dari $1 triliun ditambahkan ke total utang yang ditanggung konsumen pada 2022, kenaikan luar biasa yang tidak terlihat selama lebih dari satu dekade.
Tahanlah dorongan untuk menganggap wajar utang besar karena hal itu akan menghambat Anda membangun kekayaan dan memaksa Anda mengalirkan sebagian besar sumber daya untuk melunasi utang. Selain itu, sangat penting untuk membelanjakan uang sesuai kemampuan Anda.
#10. Anda berhak membeli barang-barang bagus karena Anda bekerja keras
Setelah bekerja keras, orang biasanya menghadiahi diri sendiri dengan membeli "barang-barang bagus." Dalam konteks ini, barang bagus berarti barang mahal bagi seseorang yang tertarik membangun kekayaan. Namun karena ingin merasa bangga pada diri sendiri dan lebih peduli pada pandangan orang lain, harga barang yang sebenarnya menjadi tidak penting.
Kenyataannya: Sebagian orang yang membeli "barang-barang bagus" dari hasil jerih payahnya hidup dari gaji ke gaji.
Miliarder seperti Mark Zuckerberg, Carlos Slim, dan Warren Buffett, di antara yang lain, dikenal menjalani gaya hidup hemat. Meskipun menghadiahi diri sendiri itu baik, belajar menunda kepuasan dapat memberikan imbalan terbesar dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Uang adalah aspek penting dalam kehidupan kita, dan memahami hakikatnya yang sebenarnya dapat sangat memengaruhi keputusan keuangan dan kesejahteraan kita secara keseluruhan. Selalu ingat bahwa memperoleh, mengelola, dan menggunakan uang dengan benar sesuai ajaran Islam dapat mendatangkan banyak berkah dan peluang. Pada saat yang sama, cinta yang berlebihan terhadap uang dan harta benda dapat merusak kesejahteraan spiritual dan emosional seseorang. Sebagai Muslim, penting untuk menjaga keseimbangan yang tepat antara urusan duniawi dan tujuan spiritual kita.
Zoya: Aplikasi Investasi Halal
Zoya memudahkan investasi halal dengan membantu Anda membangun dan memantau portofolio investasi yang sesuai syariah dengan penuh keyakinan dan pemahaman yang jelas.
